Genset vs AMPD Energy: Mengapa Intermittent Load Bisa Membuat Biaya Diesel Membengkak?

Kebutuhan listrik proyek konstruksi dan mining sering berubah dalam waktu singkat. Beban dapat naik tinggi saat equipment mulai bekerja. Beban juga dapat turun ketika equipment berhenti atau masuk standby. Kondisi

Kebutuhan listrik proyek konstruksi dan mining sering berubah dalam waktu singkat. Beban dapat naik tinggi saat equipment mulai bekerja. Beban juga dapat turun ketika equipment berhenti atau masuk standby.

Kondisi tersebut disebut sebagai intermittent load. Pola ini menjadi tantangan bagi genset diesel konvensional. Genset harus memiliki kapasitas cukup besar untuk menghadapi peak load.

Namun, kapasitas besar tidak selalu berarti konsumsi listrik yang besar. Genset tetap membutuhkan diesel ketika load sedang rendah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan fuel cost dan operating cost proyek.

Di sinilah perbandingan genset vs AMPD Energy menjadi relevan bagi proyek dengan load yang dinamis.

Mengapa Intermittent Load Menjadi Masalah bagi Genset?

Genset diesel bekerja menggunakan engine yang membutuhkan fuel untuk terus beroperasi. Ketika demand berubah cepat, genset harus menyesuaikan outputnya.

Masalah muncul ketika genset berukuran besar menghadapi load yang rendah. Engine tetap berjalan meskipun daya yang digunakan hanya sebagian dari kapasitasnya.

Data konsumsi genset menunjukkan bahwa fuel consumption tidak turun secara proporsional dengan load. Sebagai contoh, genset 500 kW dapat menggunakan sekitar 43 liter per jam pada 25% load. Konsumsinya dapat mencapai sekitar 87,5 liter per jam pada 50% load.

Artinya, genset tetap mengonsumsi diesel ketika sebagian besar kapasitasnya belum digunakan.

Pada proyek dengan intermittent load, kondisi ini dapat terjadi berulang kali sepanjang hari.

Berapa Biaya Diesel Genset?

Biaya diesel sangat bergantung pada kapasitas genset dan pola penggunaan. Faktor lain termasuk kondisi engine, maintenance, temperatur, dan kualitas fuel.

Sebagai ilustrasi, gunakan genset 500 kW dengan konsumsi sekitar 43 liter per jam pada 25% load.

Jika genset beroperasi selama 12 jam setiap hari, konsumsi mencapai sekitar 516 liter per hari.

Dengan asumsi harga diesel Rp10.000 per liter, biaya fuel mencapai:

516 liter × Rp10.000 = Rp5,16 juta per hari.

Dalam 30 hari, nilainya mencapai sekitar Rp154,8 juta.

Angka tersebut hanya ilustrasi fuel cost. Biaya aktual dapat berbeda berdasarkan harga diesel dan spesifikasi genset.

Perhitungan ini juga belum memasukkan maintenance, transportasi fuel, downtime, dan biaya operasional lainnya.

AMPD Energy untuk Mengatasi Intermittent Load

AMPD Energy menggunakan Battery Energy Storage System atau ESS untuk menghadapi pola load yang dinamis.

Sistem ESS dapat menyimpan energi dan mengeluarkannya ketika demand meningkat. Battery dapat membantu menangani peak load tanpa membuat genset terus bekerja pada kapasitas tinggi.

Dalam konfigurasi hybrid, genset dapat beroperasi pada operating range yang lebih efisien. AMPD menjelaskan bahwa ESS dapat membantu genset bekerja pada efficiency window yang lebih baik.

Ketika peak demand muncul, battery memberikan tambahan power. Ketika demand turun, genset tidak perlu mengikuti setiap perubahan load secara agresif.

Pendekatan ini dapat mengurangi fuel consumption dan generator runtime.

Genset vs AMPD Energy: Apa Perbedaannya?

AMPD sendiri melaporkan bahwa kombinasi ESS dan genset dapat mengurangi fuel consumption secara signifikan. Salah satu panduan AMPD menyebut potensi pengurangan OPEX hingga 85% dibanding diesel-only, tergantung konfigurasi dan kondisi proyek.

Bagaimana Hybrid Genset dan AMPD Bekerja?

AMPD tidak selalu harus menggantikan genset sepenuhnya.

Dalam banyak aplikasi, genset dan ESS dapat bekerja sebagai hybrid power system.

Genset menyediakan base load dan melakukan charging ketika diperlukan. Battery menangani peak demand dan perubahan load yang cepat.

Konsep ini membantu mengurangi kebutuhan menggunakan genset berkapasitas besar.

Pada proyek micro tunneling, AMPD melaporkan penggunaan ESS bersama genset yang lebih kecil. Sistem tersebut menangani dynamic loads melalui battery.

Pendekatan serupa juga relevan untuk tower crane, dewatering pump, tunneling, mining equipment, dan construction site.

Mengapa Biaya Operasional Perlu Dihitung?

Harga sewa atau pembelian genset bukan satu-satunya biaya.

Perusahaan juga perlu menghitung total operating cost selama proyek berlangsung.

Komponen biaya dapat mencakup:

  • Diesel consumption
  • Fuel delivery
  • Generator maintenance
  • Engine servicing
  • Lubricant
  • Downtime
  • Operator
  • Noise mitigation
  • Emission management

Pada proyek dengan load yang berubah-ubah, biaya tersebut dapat meningkat tanpa terlihat pada biaya awal.

Karena itu, evaluasi power system sebaiknya menggunakan total cost of ownership atau TCO.

Kapan AMPD Energy Menjadi Relevan?

AMPD Energy relevan ketika proyek memiliki peak load tinggi dan base load yang lebih rendah.

Contohnya termasuk construction site dengan tower crane dan hoist. Mining site juga dapat memiliki pump dan equipment dengan startup current tinggi.

Intermittent load membuat genset harus menghadapi perubahan demand secara terus-menerus.

Dengan ESS, battery dapat membantu menyerap perubahan tersebut. Sistem juga dapat mengurangi kebutuhan genset berkapasitas besar.

AMPD melaporkan contoh proyek yang menurunkan kebutuhan generator dari tiga unit 350 kVA menjadi dua unit 100 kVA. Proyek tersebut menghemat sekitar 74.345 liter diesel.

Hasil aktual tetap bergantung pada load profile, konfigurasi sistem, dan kondisi proyek.

Perbandingan genset vs AMPD Energy tidak hanya berkaitan dengan sumber listrik. Faktor utama adalah bagaimana sistem menangani intermittent load.

Genset tetap menjadi solusi penting untuk berbagai kebutuhan power. Namun, penggunaan genset oversized dapat meningkatkan fuel consumption ketika load rendah.

AMPD Energy menawarkan pendekatan ESS yang dapat menangani peak load secara lebih dinamis. Hybrid configuration juga memungkinkan genset bekerja lebih efisien.

Untuk proyek konstruksi, mining, infrastructure, dan industrial site, analisis load profile menjadi langkah penting.

Dengan memahami pola load dan biaya diesel, perusahaan dapat menentukan konfigurasi power yang lebih efisien.

Dapatkan Solusi Power yang Sesuai Kebutuhan Proyek

PT ODG Nusantara Jaya membantu perusahaan mengevaluasi kebutuhan power untuk berbagai proyek industrial dan construction.

Melalui solusi AMPD Energy, perusahaan dapat mengevaluasi penggunaan ESS untuk mengurangi ketergantungan terhadap diesel.

Tim PT ODG Nusantara Jaya dapat membantu menganalisis load profile, kebutuhan peak power, fuel consumption, dan konfigurasi hybrid.

Hubungi PT ODG Nusantara Jaya untuk mendapatkan konsultasi dan solusi power yang sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.

Whatsapp : +62 811-8111-3032

Email : sales@protk.co.id

Kembali ke atas