China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) merupakan salah satu kontraktor terbesar di dunia. Perusahaan ini mengerjakan ribuan proyek di lebih dari 190 negara. Setiap keputusan investasi selalu mempertimbangkan efisiensi biaya, produktivitas, dan pengembalian investasi.
Pada salah satu proyek gedung bertingkat di Indonesia, CSCEC mengambil keputusan yang berbeda dari kebanyakan kontraktor. Perusahaan memilih menggunakan Battery Energy Storage System (BESS) dari AMPD Energy sebagai sumber daya utama untuk mendukung operasional tower crane dan passenger hoist.
Keputusan tersebut bukan sekadar mengikuti tren teknologi. CSCEC menghitung seluruh biaya operasional proyek secara menyeluruh. Hasilnya menunjukkan potensi penghematan sekitar Rp127 juta setiap bulan atau setara dengan 86% dibanding penggunaan genset diesel konvensional.
Dengan estimasi payback period sekitar 3,5 tahun, investasi ini memberikan keuntungan finansial yang sangat menarik, terutama untuk proyek konstruksi berdurasi panjang.
Tantangan Penyediaan Listrik pada Proyek Gedung Bertingkat
Penyediaan listrik sementara masih menjadi tantangan utama pada banyak proyek konstruksi di Indonesia.
Proses penyambungan listrik PLN sering membutuhkan waktu beberapa bulan. Namun, pekerjaan konstruksi tidak dapat menunggu hingga jaringan listrik permanen tersedia.
Sebagian besar kontraktor akhirnya mengandalkan kombinasi antara listrik PLN dan genset diesel. Setelah sambungan PLN aktif, genset tetap dioperasikan sebagai backup power.
Model ini menyebabkan biaya operasional terus meningkat. Kontraktor harus membayar tagihan listrik PLN, biaya sewa genset, konsumsi solar, maintenance, serta logistik pengiriman bahan bakar.
Di sisi lain, tower crane membutuhkan arus starting yang sangat tinggi. Motor berkapasitas 80 kW dapat menghasilkan lonjakan arus hingga tiga atau empat kali lebih besar dibanding arus normal.
Akibatnya, genset sering dipilih dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari kebutuhan operasional harian. Oversizing tersebut meningkatkan biaya investasi sekaligus konsumsi bahan bakar.
Bagi proyek yang berada di kawasan perkotaan, kebisingan genset dan emisi gas buang juga dapat memicu keluhan masyarakat sekitar serta menambah tantangan dalam memenuhi standar lingkungan.
Kondisi Operasional Proyek CSCEC
Pada proyek ini, CSCEC mengoperasikan tiga unit tower crane dengan kapasitas masing-masing 80 kW serta dua unit passenger hoist berkapasitas 36 kW.
Total kebutuhan listrik mencapai sekitar 476 Ampere.
Sebelum menggunakan AMPD Energy, proyek memanfaatkan dua sambungan listrik PLN berkapasitas 197 kVA serta dua unit genset diesel 250 kVA sebagai backup power.
Setiap bulan, biaya sewa genset mencapai sekitar Rp68 juta. Selain itu, biaya konsumsi bahan bakar mencapai sekitar Rp80 juta.
Dengan demikian, total biaya operasional untuk sistem backup power mencapai sekitar Rp148 juta setiap bulan. Nilai tersebut belum memasukkan biaya maintenance maupun potensi downtime akibat pengoperasian genset.
Analisis Beban Bersama PT ODG Nusantara Jaya
Tim engineering AMPD Energy bersama PT ODG Nusantara Jaya melakukan load assessment terhadap pola konsumsi listrik proyek.
Analisis menunjukkan bahwa seluruh beban utama dapat dilayani menggunakan satu unit AMPD Enertainer L+.
Sistem hanya membutuhkan pasokan charging dari jaringan PLN sebesar 50 Ampere secara continuous. Nilai tersebut jauh berada di bawah kapasitas grid yang tersedia.
Simulasi operasional menunjukkan battery tetap mempertahankan State of Charge di atas 56% selama jam kerja. Kondisi tersebut memungkinkan proyek beroperasi tanpa mengandalkan genset diesel sebagai backup.
Hasil analisis membuktikan bahwa Tower Crane Power Solution berbasis Battery Energy Storage System mampu menyediakan daya yang stabil sekaligus mengurangi biaya operasional secara signifikan.

Manfaat Operasional di Luar Penghematan Biaya
Keuntungan penggunaan Battery Energy Storage System tidak hanya terlihat dari sisi finansial.
Operasional proyek menjadi jauh lebih senyap karena tidak bergantung pada genset diesel selama jam kerja.
Risiko tumpahan bahan bakar dapat dihilangkan sehingga proses HSE compliance menjadi lebih sederhana.
Monitoring konsumsi energi tersedia secara real-time melalui koneksi 4G. Data tersebut memudahkan kontraktor menyusun laporan efisiensi energi dan sustainability kepada pemilik proyek.
Selain itu, aktivitas konstruksi dapat dimulai lebih cepat setiap pagi karena tidak memerlukan proses preheating genset.
Seluruh manfaat tersebut membantu meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung target ESG yang semakin banyak diterapkan pada proyek konstruksi modern.
Saatnya Mengoptimalkan Sistem Power Proyek Anda
Jika proyek Anda masih menggunakan kombinasi beberapa genset diesel dan sambungan PLN sementara, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi strategi penyediaan listrik.
PT ODG Nusantara Jaya siap membantu melakukan load assessment, simulasi konsumsi energi, analisis ROI, serta rekomendasi konfigurasi AMPD Energy yang sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.
Dengan solusi Battery Energy Storage System dari AMPD Energy, kontraktor dapat menurunkan biaya operasional, meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, dan menghadirkan sistem kelistrikan yang lebih andal untuk proyek gedung bertingkat maupun proyek infrastruktur di Indonesia.
Whatsapp : +62 811-8111-3032
Email : sales@protk.co.id

