Tunneling merupakan salah satu operasi konstruksi dengan kebutuhan energi paling kompleks. Tunnel Boring Machine (TBM) dapat membutuhkan ratusan kilowatt saat beroperasi.
Sistem ventilasi, dewatering pump, lighting, dan emergency system juga membutuhkan power secara konsisten. Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks dalam lingkungan confined space.
Diesel generator memang masih banyak digunakan untuk proyek konstruksi. Namun, penggunaannya menghadirkan tantangan besar pada area underground.
Emisi exhaust, kebutuhan fuel logistics, noise, dan maintenance menjadi faktor penting. Karena itu, proyek tunneling membutuhkan pendekatan power yang lebih terkontrol.
Tantangan Power pada Proyek Tunneling
Kebutuhan power TBM dapat berubah secara signifikan selama proses konstruksi. Beban boring dapat berbeda jauh dibandingkan maintenance atau repositioning.
Perubahan beban tersebut dapat menyebabkan voltage fluctuation dan power quality issues. Sistem power harus mampu menangani perubahan beban secara cepat.
Selain TBM, beberapa sistem harus terus beroperasi selama proyek berlangsung. Ventilation system menjaga kualitas udara bagi pekerja di area underground.
Dewatering system juga harus beroperasi untuk mengendalikan infiltrasi air. Emergency lighting dan communication system membutuhkan power yang reliable.
Tantangan Utama
Beberapa tantangan utama dalam pengelolaan power tunneling meliputi:
- TBM power demand: Beban dapat berubah drastis selama berbagai fase operasi.
- Continuous systems: Ventilation dan dewatering membutuhkan supply yang stabil.
- Confined space: Kontrol exhaust emission menjadi faktor penting dalam keselamatan.
- Long cable distance: Distribusi power dapat mengalami voltage drop pada jarak panjang.
- Fuel logistics: Pengiriman dan penyimpanan diesel menambah kompleksitas operasional.
- Power quality: Motor besar dapat menghasilkan starting surge dan load fluctuation.
K3 dan Environmental Compliance
Area underground memiliki risiko keselamatan yang berbeda dari proyek konstruksi terbuka. Kualitas udara menjadi salah satu faktor yang harus dikontrol secara konsisten.
PP No. 50 Tahun 2012 juga menjadi salah satu dasar penerapan Sistem Manajemen K3 di Indonesia. Implementasinya perlu disesuaikan dengan risiko spesifik setiap proyek.
Untuk proyek underground, pengendalian sumber emisi menjadi bagian penting dari risk management. Ventilation dapat membantu mengendalikan contaminant, tetapi membutuhkan energi tambahan.
Pendekatan yang lebih efektif adalah mengurangi sumber emission sejak awal. Energy storage dapat menjadi salah satu teknologi pendukung strategi tersebut.

Studi Kasus: Kebutuhan Power di Jakarta
Salah satu contoh relevan berasal dari Jakarta Sewerage Development Project Zone 1. Proyek tersebut menggunakan microtunnel boring machine di kawasan Pluit, Jakarta Utara.
Profil bebannya mencapai sekitar 566 kW pada kondisi peak. Beban continuous berada di sekitar 385 kW.
Sementara itu, kebutuhan standby berada di sekitar 60 kW. Operasi berlangsung dua shift dengan enam hari kerja setiap minggu.
Profil tersebut menunjukkan pentingnya sistem power yang fleksibel. Sistem harus mampu mengikuti perubahan beban tanpa mengorbankan reliability.
Kondisi urban juga membuat fuel logistics menjadi lebih kompleks. Noise dan exhaust emission menjadi pertimbangan tambahan bagi lingkungan sekitar.
Bagaimana AMPD Energy Mendukung Tunneling?
AMPD Energy menawarkan Battery Energy Storage System (BESS) untuk berbagai kebutuhan temporary power. Teknologi ini dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap diesel generator.
Salah satu pendekatan adalah menggunakan AMPD sebagai surface-to-shaft power buffer. Unit berada di permukaan dan terhubung dengan PLN atau sumber power lainnya.
Sistem kemudian membantu mengelola peak load sebelum power masuk ke jaringan underground. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan power quality dan mengurangi generator loading.
Pendekatan kedua menggunakan unit untuk underground auxiliary power. Sistem dapat mendukung ventilation lokal, emergency lighting, communication, dan auxiliary equipment.
Penggunaan BESS juga memungkinkan monitoring power secara real-time. Data tersebut membantu tim engineering memahami pola konsumsi energi selama operasi.
Konfigurasi untuk Proyek Medium
Untuk proyek dengan continuous load sekitar 300–400 kW, konfigurasi BESS perlu mengikuti hasil load profiling. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah AMPD 400.
AMPD 400 memiliki nominal output sekitar 428 kVA. Kapasitas energinya mencapai sekitar 430 kWh.
Unit tersebut juga memiliki kemampuan overload hingga sekitar 595 kVA selama 10 detik. Kemampuan tersebut membantu menghadapi temporary load surge.
Sistem dapat menerima power dari PLN atau generator di permukaan. Power kemudian disalurkan menuju jaringan distribusi proyek.
Dengan strategi yang tepat, energy storage dapat membantu mengurangi diesel consumption. Potensi penghematan tetap bergantung pada load profile dan operating strategy.
Mengapa Energy Storage Semakin Relevan?
Energy storage untuk tunneling memberikan pendekatan berbeda dalam mengelola kebutuhan power underground.
Teknologi ini tidak hanya berfokus pada pengurangan fuel consumption. Sistem juga membantu meningkatkan power quality dan operational flexibility.
Tidak adanya tailpipe emission dari BESS menjadi keunggulan untuk aplikasi tertentu. Faktor tersebut relevan ketika proyek memiliki persyaratan emission control yang ketat.
Monitoring system juga memberikan visibility terhadap penggunaan energi. Data tersebut dapat membantu engineering team melakukan evaluasi secara lebih akurat.
Siapkan Power Strategy untuk Proyek Underground
Tunneling membutuhkan power system yang reliable, flexible, dan sesuai dengan kondisi lapangan. Pendekatan berbasis diesel tidak selalu menjadi pilihan paling efisien.
BESS dapat menjadi bagian dari strategi power hybrid untuk proyek underground. Solusi tersebut perlu dirancang berdasarkan load profile, operating hours, dan site condition.
PT ODG Nusantara Jaya dapat membantu melakukan assessment kebutuhan power untuk proyek tunneling dan underground construction.
Tim teknis dapat mengevaluasi load profile, distribution system, backup requirement, serta potensi penggunaan BESS.
Hubungi PT ODG Nusantara Jaya untuk mendiskusikan kebutuhan power project Anda dan menentukan konfigurasi yang sesuai.
Whatsapp : +62 811-8111-3032
Email : sales@protk.co.id

