Bayangkan pipe segment ke-47 sedang didorong menggunakan jacking frame.
Tekanan hydraulic sudah mendekati titik maksimum.
Alignment laser menunjukkan posisi tepat di tengah target.
Kemudian listrik tiba-tiba mati.
Gangguan singkat dapat menghentikan hydraulic system dan mengganggu proses jacking.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi alignment pipe dan meningkatkan risiko rework.
Masalah semakin kompleks ketika proyek berlangsung di area urban padat.
Genset diesel menghasilkan noise, emisi, dan membutuhkan pengisian fuel secara berkala.
Karena itu, power supply pipe jacking membutuhkan strategi yang lebih reliable.
Battery Energy Storage System atau BESS dapat menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.
Mengapa Power Continuity Sangat Penting?
Pipe jacking dan microtunneling membutuhkan power yang stabil sepanjang operasi.
Jacking frame membutuhkan hydraulic power untuk mendorong setiap pipe segment.
Slurry system juga membutuhkan continuous circulation selama proses boring berlangsung.
Pompa yang berhenti dapat menyebabkan slurry mengendap dan meningkatkan risiko blockage.
Sistem bentonite lubrication membutuhkan operasi yang konsisten selama proses jacking.
Tanpa lubrication yang memadai, friction antara pipe dan tanah dapat meningkat.
Setiap gangguan power dapat memengaruhi productivity dan safety operasi.
Karena itu, power system harus mampu menangani perubahan load secara cepat.
Tantangan Pipe Jacking di Area Urban
Proyek pipe jacking sering berlangsung di bawah jalan raya aktif.
Lokasinya juga dapat berdekatan dengan residential area dan fasilitas komersial.
Kondisi tersebut membuat penggunaan diesel generator semakin menantang.
Generator menghasilkan noise yang dapat mengganggu masyarakat sekitar proyek.
Emisi diesel juga membutuhkan perhatian terhadap aspek environmental dan HSE.
Kontraktor harus mempertimbangkan dampak operasi terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, launching shaft biasanya memiliki ruang yang terbatas.
Power equipment harus memiliki footprint yang sesuai dengan kondisi site.
BESS menawarkan pendekatan berbeda untuk kebutuhan tersebut.
Battery mode dapat menyediakan power tanpa menghasilkan tailpipe emission.
Load Profile Microtunneling yang Dinamis
Microtunnel Boring Machine memiliki load profile yang berubah selama operasi.
Boring mode membutuhkan power berbeda dibandingkan idle atau maintenance mode.
Slurry separation plant biasanya memiliki load yang lebih stabil.
Sementara itu, jacking frame dapat menghasilkan demand tinggi saat push cycle dimulai.
Intermediate jacking station juga dapat menambah kebutuhan power pada kondisi tertentu.
Karena itu, sistem power harus mampu menghadapi perubahan load secara cepat.
Energy storage dapat membantu mengelola peak load tersebut.
BESS juga dapat membantu menjaga power quality untuk equipment yang sensitif.

Studi Kasus Jakarta Sewerage Development Project
Salah satu contoh relevan berasal dari Jakarta Sewerage Development Project Zone 1.
Proyek tersebut menggunakan slurry MTBM di kawasan Pluit, Jakarta Utara.
Profil power proyek menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
- Peak load sekitar 566 kW.
- Continuous load sekitar 385 kW.
- Standby load sekitar 60 kW.
- Operasi berlangsung dua shift.
- Aktivitas berlangsung enam hari setiap minggu.
Profil tersebut menunjukkan kebutuhan power yang cukup besar selama boring.
Namun, kebutuhan standby pada malam hari jauh lebih rendah.
Kondisi ini membuka peluang untuk mengurangi penggunaan genset saat malam.
BESS dapat menyuplai critical load menggunakan stored energy.
Strategi Hybrid Power dengan AMPD Energy
AMPD Energy dapat digunakan sebagai energy storage untuk mendukung pipe jacking.
Konfigurasi hybrid dapat menggabungkan PLN, genset, dan BESS.
Layer 1 — Primary Power dan Grid Buffer
PLN atau genset dapat menjadi primary power source untuk proyek.
AMPD berfungsi sebagai buffer untuk mengelola fluktuasi load.
Konfigurasi ini membantu menjaga power quality untuk sensitive equipment.
BESS juga dapat membantu mengurangi peak demand dari genset.
Layer 2 — Seamless Backup
Ketika primary power mengalami gangguan, BESS dapat mengambil alih supply.
Respons sistem berlangsung dalam hitungan milidetik.
Respons cepat membantu menjaga continuity pada critical equipment.
Jacking frame dan control system dapat tetap mendapatkan power.
Slurry pump juga mendapatkan perlindungan tambahan terhadap power interruption.
Hal tersebut membantu mengurangi risiko gangguan selama boring cycle.
Layer 3 — Overnight Standby
Standby load sekitar 60 kW dapat menggunakan stored battery energy.
Genset dapat dimatikan ketika kebutuhan load sudah rendah.
Strategi tersebut dapat mengurangi fuel consumption selama periode overnight.
Lingkungan sekitar juga mendapatkan manfaat dari berkurangnya generator noise.
Pilihan Konfigurasi AMPD
Untuk profil sekitar 566 kW peak dan 385 kW continuous, AMPD 400 dapat digunakan.
Konfigurasi ini berfokus pada peak shaving dan backup power.
AMPD 400 memiliki overload capability hingga sekitar 595 kVA atau 904A.
Kapasitas tersebut membantu menangani kebutuhan motor starting pada equipment tertentu.
Untuk kebutuhan yang lebih kompleks, AMPD 400 dapat dikombinasikan dengan AMPD 200.
Konfigurasi tersebut mendukung hybrid operation dan overnight standby.
AMPD 200 memiliki kapasitas sekitar 215 kWh.
Kapasitas tersebut dapat mendukung standby load sekitar 60 kW selama beberapa jam.
Kombinasi dua unit juga memberikan additional redundancy.
Satu unit dapat membantu menjaga operasi ketika unit lain menjalani service.
Estimasi penghematan OPEX dapat mencapai sekitar 30–35% pada konfigurasi tertentu.
Konfigurasi hybrid dengan overnight standby dapat memberikan potensi penghematan lebih tinggi.
Besaran penghematan tetap bergantung pada load profile dan pola operasi proyek.
Analisis energy audit diperlukan untuk menentukan konfigurasi paling optimal.
Zero Noise dan Zero Tailpipe Emission
Salah satu keuntungan utama BESS adalah operasi yang lebih tenang.
Battery mode tidak menghasilkan tailpipe emission seperti diesel generator.
Keuntungan tersebut sangat relevan untuk proyek di area residential.
Kontraktor dapat mengurangi gangguan noise selama pekerjaan berlangsung.
BESS juga dapat mendukung sustainability dan HSE objectives proyek.
Energy monitoring dapat memberikan data penggunaan power secara real-time.
Data tersebut membantu kontraktor menyusun laporan energy kepada owner.
Monitoring juga membantu mengevaluasi efficiency selama proyek berlangsung.
Power Reliability untuk Menghindari Costly Downtime
Dalam pipe jacking, power bukan sekadar kebutuhan pendukung.
Power continuity menjadi bagian penting dari keseluruhan construction process.
Satu power failure dapat mengganggu jacking cycle dan project schedule.
Gangguan tersebut juga dapat meningkatkan risiko rework dan additional cost.
Biaya akibat downtime bahkan dapat melebihi biaya power system.
Karena itu, contingency plan harus menjadi bagian dari project planning.
Power supply pipe jacking membutuhkan solusi yang mampu menghadapi kondisi tersebut.
BESS memberikan alternatif untuk meningkatkan reliability sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap genset diesel.
Siapkan Power Strategy Sebelum Project Dimulai
Proyek pipe jacking dan microtunneling membutuhkan power solution yang dirancang berdasarkan kondisi nyata.
Load profile, operating hours, peak demand, dan standby load harus dianalisis terlebih dahulu.
AMPD Energy dapat mendukung strategi hybrid power untuk kebutuhan tersebut.
BESS dapat membantu menjaga continuity, mengurangi fuel consumption, dan menekan noise.
Untuk proyek pipe jacking dan microtunneling di Indonesia, power planning perlu dilakukan sejak awal.
PT ODG Nusantara Jaya dapat membantu mengevaluasi kebutuhan power dan konfigurasi BESS proyek Anda.
Whatsapp : +62 811-8111-3032
Email : sales@protk.co.id

